diary perjalanan ikhwah
Musim semi kini
telah tiba
Bunga-bunga bermekaran
Di sepanjang jalan warna berganti
Segar asri berseri … dihati …
“Aku ingin keluar dari
jamaah ini!”, sepotong kalimat terlontar dari seorang ikhwah. Bukan untuk yang
pertama kali, namun sudah tak terhingga kalimat ini mengiang di telinga kita.
Bukan pula yang terakhir kali, karena inilah sunatudda’wah. Pernyataan ini
senantiasa membekas di setiap zaman, di setiap episode dakwah, dari zaman
kenabian sampai hari kiamat.
“Silahkan akhi….silahkan ukhti….”, jawab seorang ikhwah menimpali.
Beberapa dari kita mempersilahkan kepergian saudara dari barisan ini dengan
sikap biasa-biasa. Sikap yang lahir dari pemahaman bahwa hal ini merupakan
sunnah dakwah, bahwa akan selalu lahir ikhwah-ikhwah baru, mujahid-mujahid
baru, bahwa Islam akan tetap terpelihara sehingga tidak pantas barisan ini
merengek-rengek demi menahan kepergian seseorang, bahwa seleksi alamiah berlaku
untuk membersihkan orang-orang yang barangkali memang kurang pantas mengemban
amanah ini. Sikap ini tidak salah, banyak yang menerapkan dengan apa adanya,
maka akhirnya tidak sedikitlah yang benar-benar mundur dari barisan ini
Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau
sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita.
Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau
bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil,
sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader
manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya
atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival
bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk
memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh
sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa
seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita
harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita
bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar
mengucapkan,”selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita
menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan
bahwa ini adalah sunatuddakwah.
Tidak sedikit kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah
tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada
yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan
indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas
dakwah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam
barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi dakwah yang mapan? Lepasnya seorang kader
produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang
baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas dakwah yang masih
nol?
Saudaraku, apakah orang yang baru tarbiyah 1 atau 5 tahun telah
bisa menyamai kepribadian Ka’ab bin Malik ra? Nilai keimanan memang tidak bisa
diukur dengan lamanya tarbiyah, namun kita bisa melihat secara umum bagaimana
kondisi keimanannya dengan parameter usia interaksinya dengan dakwah. Apakah
kita akan menyikapi seorang yang baru setahun liqo dengan sikapnya Musa As.
kepada Harun As. Saat beliau menarik jenggot saudaranya? Atau kita mencoba
mengikuti marahnya Abu Bakar ra. Kepada Umar ra yang memilih jalur ‘lembut’
dalam menyikapi Musailamah dan orang-orang yang menolak zakat? Sekeras itukah
kita berperilaku terhadap seorang ikhwah. Dimana senyummu saat pertama bertemu
bersama dalam dakwah ini, dimana pelukmu seperti kepada adik-adikmu yang baru
masuk dalam aksi tarbiyah?
Kunjungilah saudaramu, ketika lama ia tidak menyapamu, smslah ia
saat sang adik tidak pernah muncul-muncul dalam pertemuan keimanan. Datangilah
mereka yang lemah, mereka yang manja, tularkan petuah-petuah juangmu. Apakah
benar sudah saatnya mereka survival dalam menjaga stablitas keimanananya Tidak,
tidak ya akhi, cukuplah derai airmata ini, cukuplah kesedihan hilangnya seorang
ikhwah ‘berhenti’ sampai disini, dekaplah dan tahanlah mereka yang hendak
pergi.
Kuntum bunga boleh layu, namun rekahnya bunga-bunga mujahid harus
terjaga tetap hadir di sebuah kebun…
Dunia ibarat sebuah terminal
Hanya tempat persinggahan
Bersabarlah hadapi ujian
Tak kan lama kan tinggal …
(Suara Persaudaraan)
dari kumpulan tausiah di JAA
